Lagi rehat dari kerjaan setelah sekian jam sibuk dengan meeting dan meeting… Secara acak memutar playlist di YouTube, ternyata lagu yang diputar adalah “Ada Selamanya” dari For Revenge & Fiersa Besari. Seketika aku terdiam sejenak ketika bait-baitnya mulai kudengarkan dengan saksama.
Untuk yang pernah ada
Dan menetap di kepala
Yang kukira sementara
Ternyata selamanya
Ah, bait pembuka lagu tersebut langsung merebut kesadaranku, membawaku singgah ke dalam ingatan tentang seseorang. Dia lagi. Aneh juga, timeframe di kepala ini rasanya lebih banyak menyimpan rekam jejak tentangnya. Hmm… tapi ya tidak bisa mengeluh juga.
Hanya ingin lupa
Karena kau pernah ada
Menjadikanku istimewa
Bait selanjutnya mengembalikan kesadaranku—bukan pada masa ini, melainkan pada masa saat ingatan-ingatan tentangnya sedang ditulis. Ah… ini mulai terasa seperti siksaan.
Katanya serahkan saja
Pada waktu yang berkuasa
Kelak ku terbiasa
Sendiri dan jadi dewasa
Aku sudah bukan lagi sekadar dewasa. Secara usia, aku sudah mulai berumur. Namun seperti bait seterusnya dari lagu ini:
Nyatanya aku tak bisa
Jika nanti sampai menua
Tak henti berpura-pura
Kau dan aku tak pernah ada
Meskipun sungguh
Ku hanya ingin lupa
Hanya ingin lupa
Karena kau pernah ada
Menjadikanku istimewa
Ku hanya ingin lupa
Hanya ingin lupa
Karena kau masih ada
Dan menjadikanku manusia
Kenyataan menuliskan hal lain; menyatakan bahwa aku memang hanya manusia biasa—yang tak sempurna, yang tak selalu bahagia. Dan dia… masih ada, selamanya.
Dua kalimat terakhir itu menjelaskan diriku dan keadaanku saat ini. Mengenang masa yang telah jauh tertinggal membuatku menyadari bahwa bahagia itu memang indah adanya. Terima kasih. Untuk apa pun yang sudah kuraih saat ini, bagaimanapun juga, itu adalah salah satu buah dari masa-masa bersamamu dulu.
“Yah…”
Sentuhan telapak tangan mungil di pundakku cukup membuatku sedikit terperanjat.
“Eh… si cantik. Iya sayang, kenapa?” Ternyata si bungsu.
“Ayah… kata Ibu pasang galon.”
“Oh… oke, siap cantik!”
Ternyata dia menyampaikan titah Sang Ratu di rumah ini yang harus segera kulaksanakan. Ffiuh… tapi sungguh, itu sejenak merenggut napas. Kaget, ahaha…
Baiklah, sepertinya aku memang harus minum biar adem.