Ada yang tak pernah bisa hilang. Meski sudah lebih dari dua dekade berlalu, aku masih ingat satu kalimat: “Kami itu sudah menyatu, enggak akan pernah bisa pisah.” Sepertinya bukan begitu kalimat pastinya, ahaha… Tapi ya, kira-kira begitulah intinya. Dan memang, kami tidak bisa pisah. Haaah… Aku dan ingatanku tentang dia sudah menyatu, tak bisa dipisahkan.
Secara logika, kami bagaikan air Samudra Atlantik dan Laut Mediterania. Sampai kapan pun tidak mungkin bisa menyatu karena perbedaan massa jenis. Ya, itu persis seperti apa yang aku alami. Dari awal pun kami memang tidak pernah bisa bersama. Aku menghadap kiblat, sementara dia mengatupkan kedua tangan di depan dada. Namun dengan bodohnya, kami masih saja mencoba mengikatkan perasaan. Sampai-sampai, kami menjadi sangat pandai menipu diri.
Bodoh? Tidak. Saat itu kami selalu punya cara untuk mencari pembenaran atas apa yang kami rasa. Dengan semangat itu, kami menghabiskan tidak kurang dari 2.500 hari bercengkerama dalam suka, tangis, dan tawa. Berperan dalam berbagai drama yang kami ciptakan sendiri. Mengukir kenangan dengan kerinduan yang mendalam, sampai-sampai tangis pun disampaikan lewat senyuman.
Pada dasarnya, kami juga selalu terpisah jarak. Tapi hal itu tidak pernah menghentikan kami untuk saling melempar rasa.
Aku menghela napas lagi barusan. Setiap kali mengingatnya seperti saat ini, jemariku tidak terlalu terbata untuk menuliskannya. Sepertinya jari-jemari ini selalu riang mencatat serpihan cerita yang sedang melintas kuat di kepala.
Rasanya biasa saja ketika malam tiba; dengan ceria kami berbincang sampai larut. Selalu saja ada cerita, sesederhana kucing yang tidur di pangkuan atau bergosip tentang kelakuan teman kuliahnya yang kadang memancing tawa.
Kami jarang bertemu. Nyatanya, jarak memang terlalu jauh untuk ditempuh setiap waktu, hingga rindu terasa sekeras batu. Rasa sakitnya benar-benar menyiksa kalau sudah begitu. Kami menyiasatinya dengan berbicara, memanfaatkan paket telepon murah Rp1.000 untuk mengobrol semalaman. Tak peduli besok harus kerja, tak peduli besok ada kelas. Toh, besoknya tetap bangun pagi dengan semangat yang baru.
Dari Bandung ke Jakarta, perjalanan itu kutempuh dengan penuh harapan bahwa rasa sakit akibat rindu akan segera terobati begitu aku menatap wajah berhias senyum manis itu. Pergi sore, tiba di tujuan saat malam. Dan ya… sesuai harapan, dia datang ke tempat kami berjanji untuk makan.
Senang sekali rasanya. Itu adalah rasa bahagia yang murni, menyeruak begitu saja dari lubuk hati ketika aku melihatnya dari kejauhan. Langkahnya terus mendekat, membuat jantungku berdebar cepat. Senyum itu ia berikan padaku dengan tulus. Kami pun bertemu, duduk, hanya saling memandang, lalu tertawa bersama sejenak sebelum menghela napas lega. Hari seperti itulah yang paling kami tunggu. Bahagia sekali rasanya.
Entah apa yang kami bincangkan saat itu, namun aku ingat dia berkata, “Ayo…” sambil menyodorkan gelas minumannya kepadaku dengan sedikit manja. Ah, kata itu… intonasi saat dia mengucapkannya masih bergema di kepala hingga saat ini.
Aku jadi berpikir, sebenarnya apa yang membuat dia tetap menjelma di mimpiku sesekali? Apakah luka rindu yang dulu itu belum pulih? Saat ini kami bukanlah “kami” 21 tahun lalu—dua manusia yang saling berkirim pesan melalui Yahoo dan menyampaikan kalimat-kalimat yang kalau dibaca lagi sekarang terasa sangat cringe sekali, hahaha… Tapi dulu, itu adalah kebahagiaan yang nyata.
Apakah kamu ingat ini?
Ketika rasa takut akan kehilangan pasangan hidup datang mendera, maka akan terasa sangat menyakitkan… Tetapi ketika kemurnian cintamu telah menguasai hatinya, kebahagiaanlah yang akan engkau rasakan… Cinta bukan berarti menguasai. Cinta adalah kemurnian hati yang tulus dan ikhlas. Reguklah kebahagiaan cintamu seperti engkau menjumpai embun di pagi hari.
Kesedihan dan kerinduan hanya terasa selama yang kamu inginkan, dan menyayat sedalam yang kamu izinkan. Yang berat bukan bagaimana cara menanggulangi kesedihan dan kerinduan itu, melainkan bagaimana belajar darinya. Sehingga, kedalaman cinta dan kerinduan yang tergores di hatimu adalah ketika engkau memahami siapa dirimu dan siapa orang yang engkau cintai.
Ketika engkau telah memahaminya, lahirlah keikhlasan. Jika kamu merasakan sakit melihat orang yang kamu cintai berbahagia dengan orang lain, rasanya akan lebih sakit lagi kalau orang yang kamu cintai itu tidak berbahagia bersamamu.
Tidak ada manusia yang sempurna, tapi kita harus bisa mencintai manusia yang tidak sempurna itu dengan cara yang sempurna…
— Kisah Cinta Bulan Desember (2007)
Membacanya lagi saat ini membuatku bertanya, apakah itu benar-benar aku? Ahahaha… Tiba-tiba aku teringat Kafka yang menulis banyak sekali karya tentang seorang perempuan yang hanya ia temui sekali. Pertemuan berikutnya pun tidak membuat mereka menjadi sepasang kekasih. Hanya perasaan yang berhamburan tak tepat sasaran. Hmm… kasihan. Biarlah, itu kan dia, aku tidak. Ahahaha.
Tahun itu kamu masih kelas 2 SMA, sementara aku sudah jauh lepas dari seragam itu. Aku sudah menjadi lelaki yang mulai didera kerasnya dunia, harus berdiri di atas kakiku sendiri. Usia kita terpaut cukup jauh—lebih jauh dari jarak yang harus kutempuh untuk menemuimu. Namun, senyummu yang begitu candu sanggup menghapus segala jarak yang ada. Manisnya terkonversi dengan sangat efektif menjadi energi untuk melangkah menujumu.
Hanya ada satu kata yang sanggup merangkum semuanya: Bahagia.
–Bersambung–