Langit malam itu bukan sekadar gelap, melainkan kanvas raksasa yang dihiasi bintang-bintang. Bias cahaya Niran yang kebiruan membasuh lelaki itu—seorang lelaki yang duduk terdiam di puncak karst sambil mengatur napasnya, berpacu dengan udara dingin yang menusuk.
Zakala. Namanya bergema dalam desir angin malam, membawa kesunyian yang hanya dipahami oleh jiwa-jiwa purba.
Ia duduk bersila di atas batu besar, kaku bagai patung yang dipahat oleh waktu. Rambutnya hitam sebahu, bergerak pelan disapu angin. Namun, Zakala tak sedikit pun gemetar. Matanya terpejam bersama detik yang berlalu dalam diam.
Tiba-tiba ia berdiri, matanya masih terpejam, tetapi dunia di sekelilingnya tampak jelas dengan cara yang berbeda.
Zakala terjun dari puncak karst itu, mendaratkan kakinya di tanah berkapur yang seketika menghamburkan debu ke segala penjuru.
Tak ada keraguan pada langkahnya. Batu-batu besar di bukit terjal itu dilewatinya dengan lincah—seolah gravitasi hanyalah saran bagi makhluk lain.
Dalam percepatan itu, ia tidak merasakan kelegaan, hanya keharusan. Sudah berapa lama ia diselimuti keresahan ini? Ribuan tahun? Atau mungkin hanya sehelai napas dalam skala kosmis? Bagi Zakala, waktu telah kehilangan struktur linearnya; ia hanyalah gema yang berulang, janji dan pengkhianatan yang selalu terbit dan tenggelam di setiap galaksi yang disinggahinya. Kelelahan itu menjalar menggerogoti jiwa—sebuah kesadaran akan kekosongan di dalam dirinya. Itu adalah paradoks terbesarnya; ia tahu dirinya penuh oleh masa lalu, tetapi untuk apa ia terus bergerak? Ketidaktahuan itu menjadi cangkang yang terlalu tebal untuk ditembus. Keresahannya itu bukan untuk menghentikan kekacauan, melainkan untuk mengatur irama kehancuran.
Parasnya yang tegas tampak bagai pria tiga puluhan—garis-garis matang di wajahnya telah menyaksikan matahari terbit dan terbenam di planet-planet yang kini telah hancur. Angin adalah satu-satunya teman yang setia—karena bahkan bintang pun bisa padam. Malam ini, sama seperti malam-malam sebelumnya, ia melangkah tanpa tujuan, hanya menuruti intuisi.
Setengah jam berlalu hingga ia tiba di padang rumput luas dengan siluet hutan lebat di kejauhan.
Zakala berlutut, menempelkan telapak tangannya ke tanah. Energinya merambat bagai akar tak kasatmata, mencari denyut-denyut kehidupan.
Hampa. Bahkan serangga pun seolah enggan melintasi tempat ini.
Namun, Zakala tak memedulikan kehampaan itu. Ia kembali melesat, membelah padang menuju hutan.
Pepohonan di sana bukan sekadar besar, melainkan monumental. Batang-batangnya menjulang bagai pilar langit—menjadi arsip sunyi yang menyimpan abad-abad terkubur, mengingatkan Zakala pada waktu yang telah ia taklukkan, meski samar. Daun-daunnya membentuk kanopi rapat yang menyaring pendar Niran menjadi tetesan cahaya di atas tanah. Di bawah kanopi itu, segalanya terasa kuno dan sakral, seolah ia melangkah masuk ke ruang yang hanya dihuni oleh para dewa dan bayangan masa lalu yang menolak mati.
Di antara pohon raksasa itu, Zakala—dengan tubuh manusiawinya—terasa begitu kerdil.
Ia berhenti di depan sebatang pohon yang jauh lebih besar dari pepohonan sekitarnya. Kulit kayunya dipenuhi ukiran aneh—bahasa purba yang mungkin telah punah.
Matanya menangkap pendar di antara reruntuhan di kejauhan. Tanpa ragu, ia kembali melangkah.
Tempat itu menyerupai peninggalan peradaban yang dihancurkan secara sengaja. Zakala berdiri di tengah puing-puing yang terasa ganjil. Batuan retak di sana terlalu simetris untuk runtuh secara alami—setiap pecahannya membentuk sudut 120 derajat, bagai fragmen raksasa dari mesin kosmik yang sengaja dihancurkan. Tanaman merambat yang membelit reruntuhan berdenyut pelan, memancarkan cahaya kebiruan yang selaras dengan detak jantung Zakala.
Ia berlutut, menekan telapak tangan kanannya pada prasasti yang terkubur sebagian. Simbol-simbol bahasa di permukaannya berganti setiap kali ia berkedip. Satu detik tampak bagai hieroglif Mesir Kuno. Detik berikutnya berubah menjadi deretan aksara asing yang tak lagi ia kenali.
Lalu, prasasti itu menampilkan tulisan tangannya sendiri—dari masa lalu yang bahkan telah dilupakan oleh ingatannya.
“Aku mengenali ini,” bisiknya, suaranya terdengar lebih dalam dari biasanya.
Tiba-tiba, angin berhenti. Suara hutan lenyap seketika. Lalu, dari balik reruntuhan—sesuatu menjawab.
“Kau kembali.”
Suara itu tak terdengar melalui telinga, melainkan bergetar langsung dari dalam tulang belakangnya. Angin berputar membentuk pusaran di hadapan Zakala. Debu kapur berkristalisasi, menjelma menjadi sosok humanoid setinggi kira-kira tiga meter dengan wajah polos tanpa fitur—kecuali tiga lubang hitam di posisi mata dan mulutnya.
“Zakala. Atau kau lebih suka disapa ‘Yang Berlari di Antara Zaman’ sekarang?” Suaranya bergema bagai gerimis hujan meteor.
Zakala tak terlalu terkejut dengan kehadiran entitas itu, tetapi jarinya mengencang di gagang belati yang terselip di pinggang—senjata yang sanggup membunuh apa pun, kecuali dirinya sendiri.
“Kau tahu namaku…” sahut Zakala.
Lubang hitam di wajah entitas itu berputar, membentuk spiral dalam yang seolah tak berujung.
“Aku mengenal semua namamu. Kekasih yang kau tinggalkan di Sirius. Musuh yang kau kubur di dasar laut Lemuria. Bahkan…” Sosok itu mendadak telah berada tepat di hadapan Zakala. “…nama aslimu sebelum kau menjadi seperti ini.”
Seketika, udara terjejali hawa sengatan listrik yang pekat. Naluri bertarung Zakala membakar darahnya—mendorongnya untuk segera menghabisi makhluk itu.
Namun, sebelum belatinya terayun, entitas itu telah lebih dulu menyentuh permukaan prasasti.
Reruntuhan di sekeliling mereka bergetar hebat. Pendar cahaya keunguan mencuat dari celah-celah batu, memancarkan proyeksi yang merekah di udara—menampilkan hamparan rupa planet ini pada ribuan tahun yang lalu.
Proyeksi itu menampilkan sebuah kota dengan dominasi bangunan berbentuk spiral yang megah—menara-menaranya menjulang menembus langit. Seketika, pendar cahaya yang begitu silau terpancar, disusul ledakan dahsyat berwarna keunguan.
Hologram tersebut lantas memperlihatkan kengerian yang menimpa sekelompok orang di sana. Wajah mereka persis seperti Zakala. Mereka meneriakkan sesuatu dalam bahasa yang terasa amat familiar baginya—sebuah bahasa purba yang telah lama punah dan tak pernah lagi terdengar di jagat mana pun.
“Mereka mencoba bermain-main dengan waktu. Tetapi kau tahu bagaimana akhirnya, kan?”
“Kecuali… kau tidak ingat, karena kau melarikan diri.”
Suara sosok itu kembali memecah fokus Zakala yang tengah menatap hologram yang kian memudar. Detik itu juga, sebuah kenangan mendadak menyeruak di kepalanya—membawa ingatannya pada lautan api, tangisan anak kecil, dan bayangan dirinya sendiri yang mengenakan jubah putih sembari menarik tuas besar dan berteriak.
“Apa yang kau inginkan?” tanya Zakala dengan nada tegas di tengah situasi yang membingungkan itu.
Entitas tersebut hanya membalasnya dengan tawa nyaring—suaranya terdengar mengerikan bagai pecahan kaca yang beradu.
“Kuburan waktu ini memanggilmu pulang, Zakala. Karena hanya ada satu cara perjalananmu berakhir…” Sosok itu menggantung kalimatnya, sebelum mendadak berada tepat di hadapan Zakala, “…dengan menyelesaikan apa yang telah kau mulai.”
Pohon-pohon raksasa di sekeliling mereka mendadak membusuk dalam hitungan detik, meluruh menjadi kerangka karbon yang lapuk dan berdebu. Sosok itu lantas menyusut menjadi satu titik hitam, lalu lenyap dalam lipatan ruang—meninggalkan Zakala sendirian di tengah padang gurun yang tadinya adalah hutan purba.
Tanpa sadar, jemari Zakala menggenggam sebuah kunci perak—bermahkotakan permata biru yang memancarkan pendar tipis.
Dan untuk pertama kalinya dalam ribuan tahun, jiwa purba itu kembali mencicipi racun yang paling pahit: RASA TAKUT.