Vaelor

Zakala yang kini berdiri di tengah gurun sunyi, dengan jemari gemetar, tanpa sengaja mengusap permata biru yang tertanam di kepala kunci perak itu. Seketika, getaran hawa panas menjalar cepat dari telapak tangannya, menembus lengan, lalu menghantam kepalanya seperti ledakan tanpa suara. Detik itu juga, kesadarannya dihantam oleh pendar kilasan memori yang saling bertumpuk secara acak—bayangan wajah-wajah asing yang menjerit, benturan armada di ruang angkasa, hingga kobaran api yang menggila. Kepala Zakala serasa mau pecah; serbuan ingatan itu datang terlalu cepat dan bertubi-tubi, menghimpit dadanya hingga ia kesulitan meraup udara.

Tubuhnya terhempas. Ambang kesadarannya kian tergerus saat realitas di sekelilingnya terpilin, menarik dirinya masuk ke dalam pusaran kegelapan yang pekat. Lalu, dalam satu entakan keras, tubuhnya terlempar dan jatuh terjerembap di suatu tempat—tepat di mana kilasan memori tadi mendadak terhenti.

Seketika itu pula, kegelapan merenggut seluruh kesadarannya.

Entah berapa lama waktu berlalu, bau tanah yang gersang bercampur aroma jerami kering perlahan menarik Zakala kembali dari ketiadaan. Rasa pening masih berdenyut hebat di pelipisnya saat ia memaksa kelopak matanya terbuka. Pandangannya kabur, sebelum akhirnya perlahan fokus pada bayangan samar langit-langit beratap jerami. Cahaya temaram yang menyeruak tipis menerangi ruangan itu, memperlihatkan sudut-sudut gubuk kayu yang bersahaja—sebuah ruangan tunggal yang terikat dalam kesunyian.

Belum sempat kesadarannya pulih sepenuhnya, bayangan seorang gadis muda—berusia tak lebih dari lima belas tahun—mendadak menghampirinya. Gadis itu mengenakan tunik ringkas berikat pinggang dengan balutan kain di pergelangan tangannya, memperlihatkan sepasang telinga berbulu di sela rambutnya yang berdiri tegang, serta ekor tebal yang mengibas panik di udara.

Dengan sepasang mata ungu keemasan berpupil vertikal khas kucing yang melebar ragu, ia memundurkan langkah lantas berteriak nyaring, “Kakek! Kakek, dia sudah bangun, Kek!”

Tak lama kemudian, seorang lelaki tua melangkah masuk dari luar. Walau kerutan usia telah mengukir paruh wajahnya, langkah kaki kakek itu hampir tak bersuara—begitu tegap dan sigap, disokong oleh postur tubuh kekar berotot di balik pakaian sederhana yang dikenakannya.

Kakek itu menghampiri Zakala dan membantunya untuk duduk, lalu mengambil sebuah kursi kayu dari pojok pembaringan untuk dirinya. Zakala diselimuti pening hebat. Kilasan memori itu kembali menyeruak, membuat telinganya berdengung tajam, Zakala memejamkan mata, berusaha keras menguasai dirinya dengan mengatur napas. 

Perlahan, kakek itu meletakkan telapak tangannya di pundak Zakala, seketika aliran energi yang terasa hangat mengalir dengan lembut menjalar ke seluruh tubuhnya. Sentuhan itu membuat napas Zakala perlahan lebih terkendali, hingga akhirnya pening yang menyiksa di kepalanya berangsur-angsur sirna.

Rasa hangat yang merambat dari telapak tangan sang kakek telah mengusir dengung menyiksa di kepalanya. Ketika matanya terbuka sepenuhnya, wajah keriput lelaki tua itu berada hanya sejengkal darinya—menatapnya dengan sepasang iris keemasan yang jernih dan dalam.

“Napasmu sudah lebih tenang, Anak Muda,” suara kakek itu terdengar berat namun dalam, seperti gesekan batu di dasar sungai. Ia menarik kembali tangannya, lalu bersandar pada sandaran kursi kayu.

Zakala menyapu pandangan ke sekeliling ruangan sebelum akhirnya menatap kakek di hadapannya. “Kau… apa yang kau lakukan padaku?”

Kakek itu terkekeh pelan, membuat kumis tipis di atas bibirnya bergetar. “Hanya menyelaraskan alur energimu yang kacau. Tubuhmu bertarung hebat dengan sesuatu di dalam kepalamu sendiri.”

Dari balik pintu gubuk yang terbuka sedikit, telinga berbulu gadis kecil tadi kembali muncul, mengintip ragu dengan ekor yang terayun pelan. Sang kakek mengisyaratkan cucunya untuk tenang sebelum kembali memusatkan perhatian pada Zakala.

“Aku Kalvala, tetua di permukiman kecil ini,” kakek itu memperkenalkan diri, jemarinya yang kekar saling bertaut di atas paha. “Gadis kecil di luar itu cucuku, Lira. Kami menemukanmu tergeletak di pinggir gurun batu dua hari lalu—tanpa identitas, tanpa perlengkapan, hanya menggenggam benda perak aneh itu.”

Zakala serta-merta meraba pinggang dan telapak tangannya. Kunci Perak itu masih ada di dekatnya. Ia menelan ludah, tenggorokannya terasa sangat kering.

“Di mana… aku sekarang?” bisik Zakala dengan suara serak, menahan sengatan pening yang menyiksa.

Kakek Kalvala menatap Zakala dengan tajam, mengamati wajahnya dengan saksama sampai kerutan di dahi sang tetua kian dalam.

“Kau berada di Vaelor, di wilayah pinggiran Lembah Veyron,” jawab Kakek Kalvala perlahan. Ia jeda sejenak, mengamati reaksi Zakala sebelum bertanya balik dengan nada penuh misteri, “Namun yang membuatku heran… dari bangsa mana kau berasal? Selama delapan ratus tahun aku hidup di planet ini, aku belum pernah melihat makhluk bernapas seperti dirimu.”

“Veyron…”

Kata itu serta-merta memancing pecahan ingatan Zakala. Kilasan-kilasan memori yang tadinya liar kini mulai menyatu menjadi gambaran utuh—jauh lebih jinak, tidak lagi menghantamnya dengan membabi buta.

Dalam benaknya, tampak sebuah istana megah berwarna putih yang memancarkan pendar cahaya indah di malam hari. Tawa ceria bergema dari pesta-pesta megah, menampilkan sosok-sosok bergaun mewah yang menawan. Namun, keindahan itu mendadak sirna. Bayangan tersebut terhempas oleh teriakan histeris, tangisan yang tak terbendung, serta ledakan demi ledakan di setiap penjuru yang meluluhlantakkan seluruh kemegahan itu menjadi debu.

Zakala mengingat setiap detail kehancuran itu dengan jelas. Ia menatap Kakek Kalvala dalam bisu—sebuah tatapan sarat tanya yang tak sanggup dieja kata-kata. Kakek Kalvala paham betul badai yang sedang berkecamuk di dada lelaki itu. Tanpa sepatah kata yang memaksa, ia hanya menepuk lembut pundak Zakala, memberinya jeda untuk bernapas, lalu melangkah pelan keluar dari gubuk, membiarkan Zakala bersetubuh dengan sunyi.

Selang beberapa saat, Zakala mengumpulkan sisa tenaganya dan melangkah keluar. Di luar, Kakek Kalvala tampak menyesap minumannya dengan tenang sambil menikmati kehangatan api unggun, sementara Lira sibuk memutar panggangan di atas bara.

“Ah… sudah lebih tenang?” sapa Kakek Kalvala ramah, mengisyaratkan Zakala untuk duduk di batang kayu di depannya.

Lira tanpa suara segera menuangkan minuman hangat untuk Zakala.

“Isi perutmu dulu. Dua hari tak sadarkan diri jelas menguras habis tenagamu,” lanjut Sang Kakek. Lira kemudian memotong daging panggang yang mengepul wangi, membaginya menjadi tiga porsi untuk menjadi santapan mereka di bawah naungan malam yang dingin.

Di sela selapan daging, Zakala tak lagi sanggup menahan rasa asing yang menggerogoti dadanya. Ia memecah hening, mulai mempertanyakan kebenaran tempat yang tengah ia pijak. Apakah ini benar-benar Varindra?

Di balik pertanyaannya, ada memori tubuh yang tak bisa dibohongi. Tubuhnya mengingat betul pancaran energi Varindra yang dulu melimpah—sangat berbeda dengan apa yang ia rasakan detik ini. Varindra yang kini didudukinya terasa gersang, tandus, dan sekarat, seolah sedang menghembuskan sisa napas terakhirnya. Padahal, Varindra dalam ingatannya adalah hamparan kehidupan yang riuh, diselimuti udara sejuk tanpa ada bentangan gurun mati seperti sekarang.

Lebih membingungkan lagi ketika Kakek Kalvala menyebut nama Veyron. Bagi Zakala, Veyron yang ia kenal adalah kerajaan yang makmur yang menjadi jantung peradaban. Kilasan ledakan dan kehancuran yang menghantui benaknya tadi… mengangkat banyak tanya di benak Zakala kemudian.

“Kakek… apakah saat ini kita berada di Varindra?” tanya Zakala pelan, matanya menatap kakek Kalvala mengharapkan kepastian.

Kakek Kalvala mengangguk perlahan, mengiyakan pertanyaan Zakala meski dengan kening yang sedikit berkerut heran. Di dalam hatinya, muncul keraguan: Kenapa lelaki ini bertanya hal sejelas itu? Seolah-olah dia baru saja jatuh dari bintang yang asing.

Sebagai tetua yang telah makan asam garam kehidupan, Kakek Kalvala paham betul sejarah kelam tanah yang mereka pijak. Ia tahu kisah kaum terdahulu—sebuah peradaban agung yang pernah berada di puncak kemakmuran dan kedamaian. Sayangnya, kejayaan itu hancur berantakan, tergilas oleh keangkuhan ciptaan mereka sendiri.

Kiamat buatan itu begitu dahsyat hingga menelan lebih dari separuh Planet Varindra. Hutan-hutan lebat lenyap tak berbekas, samudra seolah menguap, meninggalkan gurun mati yang gersang dan cuma menyisakan segelintir wilayah yang masih layak dihuni.

Dan yang tersisa dari keagungan masa lalu itu… hanyalah kaum hibrida. Makhluk hasil persilangan manusia dan hewan yang dulu diciptakan kaum terdahulu sebagai mesin perang dan pekerja paksa. Berbekal daya tahan fisik dan kekuatan luar biasa, para hibrida yang dulu dianggap jelata kini justru merajai puncak kasta di atas puing-puing peradaban yang hilang.